Tuesday, 21 February 2017

Dalam upaya persiapan penanggulangan TB Kab. Pringsewu. SSR baru dari Community TB-HIV Care 'Aisyiyah Peingsewu mengadakan Pelatihan Kader yang akan melakukan pencarian terduga TB dan penyuluhan penanggulangan TB. 


Dalam pelatihan tersebut salah satu pemateri adalah Bapak Purwadi Ibnu Ahmad, Amd. Kep yang merupakan narasumber dari puskesmas. Pak Purwadi memberikan banyak informasi dan muatan materi yang berhubungan dengan TB. 

Ia mengatakan bahwa "kader harus tau bagaimana apa itu TB dan bagaimana TB dapat menular. Sehingga informasi yg diberikan lebih akurat dan terpercaya."

"Penguatan materi mengenai TB penting untuk para calon kader sehingga kader menjadi rujukan informasi yang benar." Imbuhnya.

Kegiatan ini merupakan langkah awal dalam merekrut kader TB (relawan) Community TB-HIV Care Pringsewu. Dilaksanakan pada 17 Februari 2017, di Gedung Dakwah Muhammadiyah Pringsewu. Di hadiri oleh TB-HIV Care SR Lampung,Dinkes Pringsewu, Pimpinan Daerah Aisyiyah Pringsewu, PKM Pringsewu, PKM Sukoharjo, dan perwakilan kelurahan Se Pringsewu. 


Dalam acara ini kordinator program TB HIV Care SR Lampung. Sudiyanto, S.Sos menyampaikan tentang selayang pandang TB HIV Care SR Lampung. Sudi menjelaskan bahwa Community TB HIV Care tidak akan saling tumpang tindih dengan tugas dinkes, "kami tidak memberikan obat, kami hanya memperkuat masyarakat sedangkan dinkes memperkuat layanan kesehatan". 

Kami mencoba meningkatkan kepedulian masyarakat atau komunitas tentang pentingnya pengendalian TB. Program  ini fokus pada penyuluhan,pendidikan dan pendampingan masyarakat dan pasien. Dalam membantu gerak kerjanya, kami merekrut relawan (kader TB) untuk mensukseskan program ini.

Sementara Ketua PDA Pringsewu Bunda Umi akan selalu mendukung penuh program yang sangat baik ini. Beliau juga berharap,akan ada kerja sama yang baik dari semua pihak, untuk mensukseskan program ini agar tercapai semua yang telah ditargetkan. "kami PDA pringsewu mendukung penuh program ini, kamipun berharap kerjasama dari semua pihak agar program berjalan baik" ujar Umi. Bila target tercapai maka ini akan ikut serta membantu misi kabupaten Pringsewu dalam menyehatkan masyarakatnya. 

Dr. Avi Risdyanti yang mewakili dinkes menyambut baik program TB di Pringsewu ini. harapanya ini bisa membantu pemerintah, khususnya dinkes dalam mengendalikan TB yang ada di pringsewu ini. Sinergisitas gerakan antara 'Aisyiah dan Dinkes diharapkan membuahkan hasil yang baik dalam penanggulangan dan pensuksesan Indonesia bebas TB.

Selain itu dalam acara ini maping dan diskusi rekruitmen kader plus pelatihan kader tahap 1 dan tahap 2.  Dimana Pelatihan kader tersebut akan diikuti oleh kader-kader yang tersebar di beberapa wilayah Kab. Pringsewu dengan rasio peserta masing-masing tahapan pelatihan berjumlah 24 orang kader.  


Acara Train Commmunity Cadre for Aktive Case Finding atau pelatihan kader TB baru yang akan menjadi kader pencari suspek dan penyuluh Penyakit TB di masing-masing Kecamatan dan Desa Se-Kabupaten Pringsewu dilaksanakan pada tanggal 22-23 Februari 2017. Di hari pertama beberapa materi akan di sampaikan mengenai program TB dan materi TB sebagai penguatan kopetensi pengetahuan calon kader. 


Di hari pertama ini Sudiyanto, S. SOS Koordinator Program TB Care Aisyiyah SR Lampung memberikan peringatan kepada seluruh kader bahwa "TB adalah penyakit menular bukan keturunan. Siapa saja dapat tertular baik muda maupun tua."  

Begitu juga dengan status. "Baik yang berstatus kaya, miskin, PNS, Prtani, jomblo, gagal move on, di PHPin, HTS dan status-status lainnya juga punya potensi tertular TB." Imbuhnya. 

Dalam acara tersebut kader diberikan motivasi dan pengetahuan serta penyadaran bahwa TB ada disekitar kita sehingga kita harus mengambil peran untuk menanggulangi TB di daerah kita masing-masing. 


Friday, 10 February 2017

Penyerahan laporan Program Tahun 2016 ke Pimpinan Pusat 'Aisyiyah yang di wakili oleh ibunda Siti Aisyah. Oleh kepala SR Community TB-HIV Care Provinsi Lampung Ibunda Siti Munawaroh. Penyerahan tersebut di langsungkan dalam acara Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) di Hotel Grand Quality, Yogyakarta tanggal 7-11 Februari 2017.


Rangkaian selanjutnya yakni Penandatanganan Sub Grand Agreement Program semester 1 tahun 2017 oleh Pimpinan Wilayah 'Aisyiyah Provinsi Lampung yang diwakili bunda Nurjanah Baharudin.


Picture by: Sudiyanto


Thursday, 2 February 2017

Inilah kami, Staff TB-HIV Care Community 'Aisyiyah Provinsi Lampung. Kami perkenalkan dari yang paling kanan ke kiri yakni Johan Listiyawan, Teo Rendra Arifin, Anis Mufliah dan Jheni Rahmawati. Kami percaya Upaya penanggulangan TB demi terwujudnya  Indonesia Bebas TB akan berbuah manis seperti manisnya senyuman kami. 😃😄



Salah satu penyebab munculnya kuman-kuman tuberculosis (TB atau TBC) yang resisten alias kebal obat adalah kurangnya kepatuhan pasien dalam menjalani pengobatan. Bahkan ada yang putus asa kemudian berhenti berobat alias drop out (DO).


Ada banyak alasan yang membuat pasien TB putus asa dan menghentikan pengobatan. Dari sekian banyak alasan, ia mengidentifikasi 3 alasan paling banyak menyebabkan DO sehingga meningkatkan resistensi (kekebalan) kuman terhadap obat TB.

1. Kurang dukungan keluarga
Menjalani pengobatan selama berbulan-bulan (6 bulan untuk TB biasa dan sekitar 18 bulan untuk MDR-TB) memang tidak mudah. Sering muncul rasa jenuh, bosan dan putus asa dalam proses pengobatan sehingga rentan DO atau putus pengobatan yang berisiko memicu resistensi atau kekebalan kuman terhadap obat yang ada saat ini.

Dalam hal ini, peran keluarga sangat dibutuhkan untuk menjaga motivasi pasien untuk berjang sampai dinyatakan benar-benar sembuh. Meski merasa sudah sembuh karena sudah tidak-batuk-batuk, pengobatan tetap harus dilanjutkan sampai waktu yang ditentukan dokter karena kuman belum benar-benar mati. Kuman yang hanya tertidur itu bisa menjadi kebal saat bangun jika pengobatan tidak dituntaskan.

2. Efek Samping
"Efek samping pengobatan TB, khususnya MDR-TB itu antara hidup dan mati. Ada yang sampai sampai tuli, mual muntah pusing, asam urat, ada juga yang bikin halusinasi. Ada yg sampai ingin bunuh diri karena tidak kuat berobat selama 19 bulan," kata Indra.

Obat yang digunakan untuk MDR-TB memang berbeda dari TB biasa, karena kuman-kumannya sudah resisten atau kebal dengan obat biasa. Harus dipilihkan obat dengan kekuatan yang lebih besar, jenisnya lebih banyak dan tentu saja efek sampingnya makin beragam.

3. Ekonomi
Faktor berikutnya adalah ekonomi. Meski obat-obatan TB maupun MDR-TB bisa diperoleh secara gratis, kenyataannya pasien masih harus menanggung biaya lain seperti transportasi menuju rumah sakit untuk kontrol maupun sekedar menebus obat-obatan.

Obat untuk MDR-TB kan nggak boleh dibawa pulang, jadi tiap hari harus ke rumah sakit. Nantinya memang harus ada obatnya di puskesmas, tetapi kadang puskesmasnya juga jauh. Padahal tiap hari harus ke puskesmas. Obat TB biasa boleh dibawa pulang, kalau MDR-TB tidak boleh. Harus di Rumah Sakit dan minumnya diawasi petugas.

Kebanyakan, orang tak menyadari mengalami gejala TB dan bingung membedakannya dengan penyakit lain karena tak mudah untuk mengenalinya. Padahal, gejala dimulai secara bertahap dan berkembang dalam jangka waktu beberapa minggu hingga berbulan-bulan. Orang sering mengalami satu atau dua gejala ringan dan tak mengenalinya sedini mungkin. Gejala sering tidak muncul sampai penyakit ini berkembang. Mengidentifikasi gejala TB bisa membantu seseorang mencegah komplikasi seperti infeksi PPOK (Penyakit paru Obstruktif Kronik) pada organ tubuh lain. 


Berikut sejumlah tanda dan gejala khas jika orang terkena TB:

  • Batuk. Pada tahap selanjutnya, batuk bisa menghasilkan dahak berwarna abu-abu atau kuning yang bisa bercampur dengan darah
  • Perhatikan penurunan berat badan yang tidak bisa dijelaskan.
  • Kelelahan
  • Demam
  • Berkeringat di malam hari adalah salah satu cara tubuh melindungi darpenyakit. Berkeringat di malam hari dapat dimulai dengan demam dan akhirnya menyebabkan keringat berlimpah diikuti oleh menggigil.
  • Panas dingin
  • Kehilangan nafsu makan
  • Amati urine yang berubah warna (kemerahan) atau urine keruh. Ini merupakan gejala yang muncul pada tahap selanjutnya
  • Batuk yang berlangsung tiga minggu atau lebih
  • Batuk darah atau sputum
  • Perhatikan nyeri di dada dan paru-paru, yang bisa menyebabkan sesak napas. Sesak napas itu bisa menyebabkan pusing.

Organ yang Terpengaruh

TB bisa menyerang paru-paru Anda dan bagian organ lainnya.Jika Anda mengalami TB paru, maka tanda dan gejala yang dihadapi

Selain paru-paru, TB bisa mempengaruhi bagian lain dari tubuh Anda, termasuk tulang belakang, ginjal, dan otak. Ketika TB terjadi di luar paru-paru, gejala bervariasi tergantung organ yang terlibat. Misalnya saja TB tulang belakang yang bisa membuat punggung Anda sakit, dan TB ginjal yang bisa menyebabkan urine berdarah. 

Meski TB menular, bukan pekerjaan mudah untuk mengenalinya. Anda lebih mungkin tertular TB dari seseorang yang hidup dengan Anda atau bekerja bersamanya dibanding orang yang tak dikenal. Kebanyakan orang dengan TB aktif yang sudah menjalani terapi obat yang tepat, setidaknya dua minggu sudah tidak lagi menular.

TB tetap menjadi pembunuh utama karena peningkatan dalam obat yang tahan dengan strain bakteri. Sejak antibiotik pertama digunakan untuk melawan TB sejak 60 tahun yang lalu, beberapa kuman TB mengembangkan kemampuannya untuk bertahan hidup. Dan kemampuan itu diteruskan ke keturunannya.

Obat menjadi resisten terhadap TB ketika antibiotik gagal membunuh semua bakteri. Bakteri yang hidup menjadi resisten terhadap obat tertentu dan sering pada antibiotik lainnya.

Indonesia sendiri termasuk lima besar negara dengan jumlah pengidap TB terbanyak di Asia Tenggara dengan jumlah pengidap yang mencapai 305.000 jiwa pada tahun 2012. Kendati demikian, nyatanya masih banyak yang belum mengerti dan mengenal penyakit ini. Dengan gejala awal batuk yang kemudian disertai dengan demam, kadang-kadang masyarakat masih mengangap itu hanya penyakit biasa dan tidak mau melakukan pemeriksaan secara lebih intensif untuk mengetahui lebih dalam lagi tentang gejala yang dirasakannya. Dan ketika batuk tidak berhenti selama 2 minggu dan keadaan semakin parah yang kadang-kadang batuk yang disertai dengan darah, yang menandakan penyakit sudah parah barulah melakukan pemeriksaan dan pengobatan.


Mycobacterium Tuberculosis adalah bakteri penyebab dari penyakit TBC, kuman ini berbentuk batang yang mengelompok atau disebut berkoloni. Kuman ini paling sering menyerang organ pernafasan atau paru-paru, walaupun masih bisa menyerang organ tubuh yang lain. Infeksi primer dapat terjadi pada indifidu yang belum memiliki kekebalan terhadap basil ini. Nama lain dari TBC adalah TB yaitu adalah singkatan dari tubercles bacillus. Jadi antara TBC dan TB adalah penyakit yang sama.

Dengan penyebaran melalui udara, TBC dapat menyerang siapa saja. Dari organ pernafasan, penderita dapat menularkan melalui bersin, batuk, atau hembusan udara yang melalui hidung ataupun mulut. Kuman yang bertebaran di udara akan terhisap oleh orang yang ada disekitar melalui pernafasan dan masuk kedalam paru-paru, kemudian masuk ke saluran limfe paru. Dari limfe inilah menyebar ke seluruh tubuh melalui aliran darah.

Selain menyerang organ paru, bakteria ini dapat menyerang organ-organ tubuh yang lainnya seperti sendi, otot, tulang, saluran kencing, sistem syaraf pusat, sumsum tulang, dan sistem limfa. Tidak semua organ yang terserang menimbulkan gejala yang secara langsung dapat kita rasakan, tergantung dari bagian mana yang diserang. Sebagai contoh apabila yang terserang bagian tulang belakang maka gejala yang dirasakan adalah rasa sakit pada bagian tulang belakang. Dan apabila bakteria menyerang bagian organ ginjal maka, penderita mungkin akan mengalami masalah kencing darah.