Monday, 20 March 2017

Sabtu, 11 Maret 2017 SSR TB HIV Care Lampung Tengah Mengadakan rapat persiapan Hari TB Sedunia 2017. Rapat persiapan ini dihadiri oleh Korlak SSR TB HIV Lampung Tengah, Kepala SSR dan perwakilan Pimpinan Cabang Aisyiyah Kalirejo, Bangunrejo, Selagai Lingga dan Sendang Agung.  Semua mengikuti rapat dengan semangat dan antusias, selain itu pelaksanaan Hari TB sedunia ini akan menjadi wadah bagi kami Aisyiyah untuk mengenalkan amal usaha baru dengan mengumpulkan semua wali murid TK yang berada disekitaran Kalirejo untuk mengenalkan SD Muhammadiyah dibawah binaan Aisyiyah cabang kalirejo ujar Ibu Zulyana Samba yang merupaka ketua PCA Kalirejo dan wakil ketua PDA Majelis Kesehatan. 
....

Dalam rangka kegiatan hari TB Se Dunia ini kami akan adakan gebyar TK yang ada lomba-lomba diantaranya lomba mewarnai, dai cilik, Hafidz dan fasion shoo. Harapanya peserta lomba akan diikuti oleh ibu dan bapaknya sehingga acara juga akan diisi oleh orasi kesehatan yang akan di galang oleh tim TB HIV Aisyiyah Lampung Tengah, lebih lanjutn disa mpikan oleh Ibu Darning PCA Bangunrejo. 

Lebih lanjut Hasbullah selaku korlak berharap kegiatan hari TB Se-Dunia ini bisa meningkatkan capaian untuk kader, terpaparnya informasi TB terhadap wali murid TK  dan juga membantuk persyaritkan Muhammadiyah terutama Aisyiyah dalam membangun amal usaha. Sehingga program TB ini bukan bermanfaat dalam bidang kesehatan melainkan bermanfaat bagi amal usaha Muhammadiyah dan Aisyiyah.
Adapun kegiatan untuk TB Day akan dilaksanakan di Lapangan SD  Muhammadiyah kalirejo, pada hari Sabtu Tanggal 1 April 2017, dengan rangkaian  kegiatan Gebyar TK (Lomba-lomba) serta ada orasi Kesehatan. Dalam hal ini panitia akan mengusahakan untuk dihadiri oleh pemerintah daerah dalam hal ini Bupati Lampung Tengah dan beberapa anggota Dewan. (Bul-bul)


Mbak Eka, begitu panggilan akrabnya, ibu rumah tangga yang sudah satu setengah tahun terakhir ini ikut bergabung menjadi kader TB aisyiyah di kecamatan Tulang Bawang udik,kabupaten Tulang bawang Barat.meskipun kesibukanya sebagai ibu rumah tangga dan juga pedagang ,mbak Eka tidak pernah lalai untuk melaksanakan tugasnya  sebagai relawan  dalam menyebarkan informasi tentang TB bagi masyarakat di daerahnya ,bahkan dengan pekerjaanya sebagai pedagang dan distribusi tabung gas dari desa satu ke desa lainya mbak eka dapat lebih efektif menyampaikan informasi ke masyarakat ,tanpa mengenal waktu. sehingga  suspek yang di dapatkanya tidak hanya berasal dari desanya saja ini terbukti dari suspek yang di temukan selama mengikuti program TB , yakni  sebanyak 155 suspek yang ditemukan dengan 24 supek terdiagnosa BTA +, 6 orang Ro + dan 1 Tb anak .
    Informasi program TB aisyiyah pertama kali di ketahuinya melalui bidan didesanya, mulanya enggan untuk ikut bergabung lantaran ngeri mendengar kata – kata Tuberculosis.namun setelah tahu bahwa pengobatan TB itu gratis dan penyakit TB bisa disembuhkan dengan pengobatan yang teratur mbak eka tertarik untuk ikut bergabung dalam program,tujuanya dapat membantu masyarakat  agar dapat memahami tentang TB secara benar sehingga tidak salah dan terlambat dalam mencari pengobatan.Dukungan suami lebih meyakinkanya untuk ikut dan bergabung dalam penanggulangan Tuberkulosis. Walaupun, kenyataanya  tak semudah apa yang dibayangkan, dalam memberikan informasi ke pada masyarakat yang terduga TB, banyak yang menyakal jika di sarankan untuk melakukan pemeriksaan sputum,begitupun dengan petugas kesehatan ada beberapa yang kurang baik. tetapi ada pula pasien TB  yang merasa senang dan sangat terbantu dengan adanya informasi yang diberikan sehingga pasien dapat segera berobat karena tahu tentang penyakitnya.

                Selama bergabung di program, mbak eka merasa senang  karena dapat menambah banyak teman  dan saudara, bisa bermanfaat dan menolong orang lain,lebih tahu tentang kesehatan terutama TB dan dapat lebih hati hati dalam menjaga kesehatan keluarga.dengan pendekatan kekeluargaan yang di gunakan ,mbak eka lebih mudah mendekati suspek dan keluarga ,serta suspek merasa nyaman dan tidak sungkan dalam menyampaikan permasalahanya.meskipun tak jarang rasa takut dan khawatir tertular itu ada, karena seringnya bertemu dengan pasien, sehingga besar harapanya, program bisa membantu untuk memberikan jaminan kesehatan bagi relawan  TB “karena tidak mustahil kali ini saya yang membantu mereka yang terkena TB, lain kali jika saya yang terkena siapa yang akan membantu” papar Mbak eka.

                Meskipun penyuluhan dan pendekatan terus dilakukan, masih banyak masyarkat yang belum mempunyai kesadaran untuk memeriksakan diri secara mandiri,besar harapan mbak eka  dimasa yang akan datang masyarakat akan lebih mengerti lebih paham dengan bahaya TB sehingga masyarakat mempunyai kesadaran untuk dapat menolong dirinya sendiri dan keluarga , serta saling bahu membahu dalam pemberantasan TB di kecamatan tulang Bawang Udik khususnya, dan Kabupaten Tulang Bawang Barat.walaupun suatu saat nanti program  berakhir ,selagi  masih bisa membantu orang yang membutuhkan, saya pasti membantu. Kata mbak eka

                Pendapat tentang Aisyiyah sangat bagus dan baik , turut serta dalam pemberantasan TB, belum pernah ada organisasi yang melakukan hal yang sama selama ini . Berikut biodata singkat beliau :
Biodata
Nama                                        :   Eka Susiyani
Usia / TTL                                :   31 tahun/ Gunung Batin 18 Mei 1984 
Alamat                                      :   Karta Raharja
Kegiatan Harian/ Pekerjaan      :   Dagang
Informasi Keluarga        
Nama Suami                             :  Budi Suprapto
Jumlah Anak/ Nama / Usia      :   1 (satu)/ Angga Yuda Pratama/ 12 Tahun


Kebanggaan pak wiyono sebagai kader TB Care Aisyiyah Lampung tengah
Pak Wono, panggilan akrab dari Suwono, adalah seorang kader TB Kecamatan Selagai lingga kecamatan ujung bagian Barat Lampung Tengah dengan Geografi yang cukup nyunik serta keadaan alam yang sering mengancam nyawana pak Wono tak pernah pantang menyerah dalam menyelesaikan tugas sebagai kader TB Aisyiyah Lampung Tengah. Pak Wono  merupakan sosok aktif dalam kegiatan kemasyarakatan di  lingkungannya,  beliau adalah salah satu tokoh masyarakat di kampung Sidoharjo dan menjadi salah satu tokoh politik pada salah satu parati politik.


Pak Wono, yang tinggal yang merupakan penduduk asli dari Sidoharjo yang berbatasan langsung dengan beberapa daerah rawan pembekalan dan beliau adalah dukun sunat dan dukun pijat yang sudah banyak memakan korban sampai sembuh, dan itu menajdai hal yang mudah dalam melakukan penyuluhan sebagai kader TB.


Suami dari ibu Nuruk Khotimah ini harus menepuh beberapa km sehingga ia harus menhantar pasien ynga ditemukan, dengan mengggunakan keadaran bermotor bututnya tetap mengahantarkan dalam berbagai waktu. Jarak yang harus ditempuh lama perjalanan hambil 30 menit dengan kecepatan 60-80 km/jam, dengan melewati beberapa daerah rawat begal tapi hal itu yang menjadi penyemat sendiri oleh pak wono, yang juga banyak kenalan penjahat sehingga membantu dalam penyuluhan dan pencaringan suspek.


Bapak dua anak ini menyampaikan kebanggaanya sebagai kader TB Aisyiyah selain membantu orang yang sakit tapi juga membantu meningkatkan kesejahteraan masyarakat karena kesembuhannya. Ada hal yang merak dari pak Wono ini yaitu setiap pengadaan penyuluhan maka dia akan selalu membawa tokoh masyarakat yang ada, suatu kekita dalam penyuluhan beliau membawa salah satu aparat keamanan yang adalah kepala dengan tujuan bahwa kader TB yang akan dilindungi oleh pihak keamanan. Walaupun kata belaiau, pihak keamanan bingung apa yang disampaikan dan akhirmya memberikan contekan berupa lembar balik dan stiker yang berisi tentang TB.


Selaian itu pak Wono ini sering juga memanfaatkan jamaah yasinan, pos roda, pertemuan balai kampung untuk memberikan pemaparan tentang pengetahuan TB, sampai suatu ketika ada orang sakit apapun meminta tolong kepada pak Wono yang sekali lagi belaiu pak Wono dengan senyum khasnya selalau mengiyakan untuk membantu sampai tuntas. Bahkan sampai hp hilang, kontak motor dan bahakan pernah ketinggalan berkas laporan tetap saja belaiu jalani dengan niata ikhlas dan bernilai Ibadah,


Kehidupan beliau yang sederhana dengans selalu menggunakan penutup kepala “PECI” yang menjadikan simbol keimanan dan ketaatan kepada Allah swt. Belaiau adalah kader yang aktif dari April 2011 sampai saat ini. Beliau adalah kader yang tidak pernah absen disetiap pertemuan Monitoring dan Evaluasi kader dalam keadaan apapun, dan sepertinya sakit tidak pernah hinggap pada dirinya. Selain itu beliau adalah kader TB yang setiap Tiwulan pasti memberikan sumbangsih capain baik itu suspek dan BTA dan satu lagi belaiu adalah kader yang selalau mendampingi PMO dalam pelatihan PMO dan selalu mendampingi pengelola program bila mengadakan kunjungan ketempat belaiu.


Metro- Pimpinan Daerah Aisyiyah (PDA) Kota Metro melaksanakan pelatihan kader tahap 1, dalam program penanggulangan TB-HIV Care SSR Aisyiyah Kota Metro. Agenda dilaksanakan di Aula kelurahan Margorejo Metro Barat (19-20/11/16).


PDA Kota Metro yang diwakili Bunda Tugirah dalam sambutannya menyampaikan bahwa “ Program TB-HIV Care Aisyiyah bukan program baru untuk kota metro, sebelumnya tahun 2009-2013 pernah melaksanakan program serupa. Kader-kader TB-HIV care yang di Training selama 2 hari diharapkan dapat mengikuti dan memahami pelatihan dengan serius, sehingganya pasca training dapat melaksanakan program dengan baik dan maksimal. Kader TB-HIV Care adalah ujung tombak dari program penanggulangan TB-HIV yang dilaksanakan diseluruh Indonesia. U

jarnya



Muhammad Tuah selaku  koordinator program TB-HIV Care SSR Aisyiyah Kota Metro menyatakan training kader tahap ini adalah upaya yang dilakukan agar kader-kader memiliki bekal dan kemampuan dalam menjalankan program TB dimasyarakat. Pasca training 2 hari akan dilaksanakan praktek lapangan selama 5 hari yang mana setiap kader akan mensosialisakan apa itu TB, bagaimana penanggulangannya, serta upaya-upaya yang harus dilakukan dalam menanggulangi penyebaran penyakit TB.


Fasilitator training Fajar Fahlevi menambahkan bahwa training tahap 1 kader akan diberikan materi-materi seperti: peran Aisyiyah dalam penanggulangan TB, tugas kader komunitas, informasi dasar TB dan mengenali dan menemukan terduga TB. Training dilaksanakan selama 2 hari metode training pemaparan materi, diskusi kelompok, serta persentasi kelompok, bermain peran. Tuturnya

Training kader ini bertujuan untuk membuat kader lebih mengerti dan semangat dalam melaksanakan tugas dan kewajibanya. Sehingga tujuan diadakanya program ini akan berhasil.


NSP



Pemaparan Materi dari Aisyiyah

Pemaparan Materi dari Dinas

Serunya saling kenal antar kader

Foto bersama setelah selesai trainig

Peserta sedang diskusi kelompok

Materi dari SR Lampung

Foto bersama

Sambutan Kordinator SSR Kota metro

Asyiknya diskusi kelompok



Monday, 6 March 2017

Mungkin banyak menganggap batuk adalah penyakit yang biasa terjadi pada semua orang. Namun ada batuk 3B yakni BUKAN BATUK BIASA. 3B yang dimaksud adalah batuk TB yang di kenal dimasyarakat batuk TBC. Berikut cara menanggulangi 3B dengan 3A.



Semoga kita semua terhindar dari TB. 

Sabtu 4 Maret 2017 SSR TB Aisyiyah Tanggamus melaksanakan Training kader TB HIV Care gelombang ke II Tahap pertama. Di ikuti 24 orang yg nantinya akan menjadi kader TB HIV Care Aisyiyah Tanggamus. Turut hadir pula dalam acara ini kordinator SR. 


Dalam kesempatan ini Sudiyanto (Kordinator SR) Menyampaikan selayang pandang tentang Program. Selain itu beliau memberi motovasi kepada kader agar semangat dalam melaksanakan tugas-tugasnya.

Dalam foto berikut Hazbullah (Fasilitator) sedang membagikan lembar evaluasi fadilitator. Ini supaya tahu apa yg perlu di benahi oleh timfasilitator, agar bisa lebih baik dalam memfasilitasi peserta.
Pada training kader kali ini dilaksanakan 2 hari pada setiap tahap. Untuk tahapan pertama dilaksankan pada tanggal 4 dan 5 maret 2017. Turut mensukseskan acara para fasilitator yg sangat bersemangat dalam memfasilitasi acara trsebut. 


Acara ini berlangsung santai tetapi serius. Fasilitator mencoba membangun kedekatan dengan kader. ini berguna agar tidak hanya bekerja dan bersosial biasa, tetapi untuk membangun kekeluargaan dengan kader. Harapanya kedekatan antar kader dan penyelenggarapun akan terjadi mesra sampai kedepan.



Berikut terlihat kedekatan para kader dengan fasilitator, mereka tak segan untuk berselfie ria. Semoga kekeluargaan yang di bangun ini  bisa menambah kekompakan tim dalam melaksanakan program.