Friday, 16 November 2018


tbcare.org - Sabtu 16 November 2018, Aisyiyah yang merupakan salah satu Organisasi Otonom Muhammadiyah mengadakan Capacity Building of CSO Advokasi Skill And Fundrising, Media Campaign. Dalam agenda tersebut CSO (Civil Society Organization) peserta pelatihan diberikan muatan capasitas dalam mengadvokasi kasus TBC-HIV di Bandar Lampung.

Kasus TBC di Bandar Lampung sendiri sampai dengan September 2018 terdapat 843 kasus TBC Paru. Capaian tersebut merupakan signal bahwa Bandar Lampung harus tanggap terhadap penyakit ini. Dalam menanggapi persoalan ini Aisyiyah yang memang aktif menyuarakan penanggulangan TBC di Bandar Lampung menginisiasi Perwali tentang penanggulangan TBC di Bandar Lampung Bersama-sama dengan NGO (Non Governmnet Organization) penggiat TBC dan HIV.



“Jika melihat Perda Kota Bandar Lampung Nomor 03 Tahun 2018 Tentang Pencegahan dan Penanggulangan Penyakit Menular, maka dipandang perlu untuk diperkuat dengan lahirnya Perwali. Sehingga pelaksanaan penanggulangan TBC-HIV yang bagian dari penyakit menular dapat maksimal dan alokasi dana penanggulangan TBC-HIV di bandar lampung meninggkat.” Tutur Pristi Wahyu Diawati yang merupakan Koordinator SSR TB Care ‘Aisyiah Bandar Lampung.

Selain peningkatan kapasitas peserta dalam mengadvokasi TBC-HIV, pada Acara tersebut juga diberikan muatan tentang teknik dalam mencari dan menghimpun fundraising dan media kampanye.

“TBC adalah penyakit menular yang dapat menular kesiapa saja. Namun faktanya menunjukkan bahwa pasien TBC kebanyakan dari kalangan menengah kebawah. Sehingga kemampuan menghimpun dana untuk membantu pasien dalam berjuang untuk sembuh dari penyakit TBC dapat dilakukan.” Ujar Dian Sugianto yang merupakan Fasilitator pada kegiatan tersebut.

Media kampanye untuk menyarakan bandar lampung siaga TBC-HIV harus disemarakkan. Kerjasama dengan berbagai media massa, media online dan kampanye melalui media sosial harus terus digalakkan. Karena penanggulangan TBC-HIV adalah tugas kita semua baik Pemerintah Daerah Bandar Lampung, DPRD, dan masyarakat dan juga media masa yang membantu menyarakan penanggulangan TBC-HIV.

Dalam agenda tersebut diundang NGO antara lain Aisyiyah Kota Bandar Lampung, IPI (Ikatan Wanita Positif Indonesia), PKBI, Lembaga Advokasi Perempuan Damar, forum Tuberkolosis Bandar Lampung, KMP TBC Resisten Obat, Organisasi Pasien TBC, Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Bandar Lampung, LPM, dan Komunitas Kebijakan Publik Bandar Lampung.

Agenda tersebut ditutup dengan pembuatan rancangan tindak lanjut pengajuan usulan Perwali kepada Walikota Bandar Lampung.


Thursday, 8 November 2018


SR Communty TBC-HIV Care Provinsi Lampung melakukan pelatihan pendamping Pasien TBC RO (Resisten Obat), Kamis (8/11). TBC Resisten Obat adalah penyakit TBC yang disebabkan mycobacterium tuberculosis yang sudah mengalami kekebalan terhadap OAT. Artinya, obat tersebut tak lagi dapat membunuh kuman penyebab penyakitnya. Tubercolosis (TBC) menjadi penyakit menular yang banyak menyebabkan kematian di Indonesia.

Sudiyanto, S.Sos selaku Project Meneger TBC-HIV Care 'Aisyiyah Lampung menyebutkan pada tahun 2016, terdapat 274 kasus kematian per hari di Indonesia. Pada tahun yang sama, kasus TBC baru mencapai 1.020.000 pengidap.

"Angka itu menjadikan Indonesia berada di peringkat kedua kasus TBC terbanyak di dunia setelah India. Kemudian, disusul oleh China, Filipina, Pakistan, Nigeria, dan Afrika selatan," imbuhnya

Pengobatan pasein TBC Resisten Obat jangka pendek dapat dilakukan dengan cara minum obat dan suntuik setiap hari selama 6 bulan. Lamanya tahapan pengobatan TB RO ini membuat para pasien banyak yang mangkir berobat dan juga depresi.


SR TB-HIV Care Aisyiyah Lampung yang bergerak dalam penanggulangan TB-HIV berbasis komunitas membuat beberapa program. Salah satunya adalah pendampingan pada pasien TBC RO.

Pelatihan Pendampingan Pasien TBC RO dilakukan selama 5 hari dengan pelatihan 3 hari di Hotel Horison dan 2 hari praktek di RS Abdul Moeloek.

Pelatihan ini diikuti oleh  calon Pendamping pasien, majelis kesehatan PWA Lampung,  Perwakilan PMDT RS Abdul Moeloek, SRR TBC-HIV Care ‘Aisyiyah Bandar Lampung, SRR TBC-HIV Care ‘Aisyiyah Metro, dan juga Dinas Kesehatan Kota Bandar Lampung.

Sudiyanto menambahkan, pelatihan ini dilakukan dalam rangka membantu pasien untuk patuh menjalani pengobatan, mengedukasi dan memberi semangat pasien untuk menjalani pengobatan.

"Nantinya Pendamping pasien yang telah dilatih akan mendampingin pasien-pasien TBC RO yang saat ini menjalani pengobatan di RS Abdul Moeloek dan RS Ahmad Yani Metro," imbuhnya. (apr/)


Wednesday, 7 November 2018


Kamis, 8 November 2018 SR TBC Care Aisyiyah Provinsi Lampung melakukan Training Pasien Suporter yang akan mendampingi pasien TB Resisten Obat.


Dalam pelatihan tersebut Ketua 1 Pimpinan Wilayah 'Aisyiyah Lampung memaparkan "gerakan Al Ma'un mendasari semangat 'Aisyiyah untuk bermanfaat bagi umat".

Jihad saat ini tidak harus perang.  Jihad yg diajarkan Ahmad Dahlan yakni jihad kemanusiaan.  Hadir di tengah-tengah masyarakat membantu saudara-saudara sesuai dengan kemampuan kita masing-masing. Tutur Munawarah


Pelatihan terbut akan dilaksanakan selama 3 hari di hotel horison dan akan dilanjutkan dengan ptaktik lapangan 2 hari di PKM dan RS Abdoel Moeloek Lampung.


Thursday, 1 November 2018

Komunitas TB Care Aisyiyah Pesawaran memperoleh bantuan corporate social responsibility (CSR) dari PLN. Bantuan secara simbolis diserahkan Kepala Rayon PLN Pringsewu Boy Mangatas di Balai Desa Kuto Arjo, Kecamatan Gedong Tataan, Pesawaran, Kamis, 1 November 2018.

Penyerahan CSR dilakukan di sela pelatihan kader TB/HIV Care Aisyiyah. Turut hadir organisasi wanita di Bumi Andan Jejama, di antaranya, Persatuan Wanita Kristen dan Muslimat.


Bantuan senilai Rp 20 juta sebagai stimulan salah satu kegiatan positif penyakit TBC.  Koordinator pelaksana kegiatan tersebut, Irsyad Fatoni, mengatakan, TBC/HIV ini menjadi tanggung jawab bersama, sehingga tidak mengenal suku, agama, dan organisasi.

Wakil Supervisor TBC Dinas Kesehatan Pesawaran Indrawansyah mengatakan, case detective red (CDR) atau target deteksi kasus TB di Bumi Andan Jejama telah ditentukan sebesar 70 persen (1.729 kasus)  untuk 2018.

"Pencapaian (target) baru 22,15 persen (363 kasus)," ujarnya.

Sehingga, tambah dia, pencapaian tersebut masih jauh di bawah target.

Indrawansyah mengatakan, kegiatan penanggulangan TB sudah berkonsolidasi dan berkolaborasi dengan lembaga di masyarakat.

Termasuk, kata dia, debgan TB Care Aisyyiyah. Oleh karena itu, pada sisa waktu ini berupaya untuk mengejar target.

Dia membenarkan terkait adanya lima pasien TB multidrug-resistant (MDR). Mereka tersebar di Kecamatan Gedong Tataan, Way Lima, Padang Cermin dan Kedondong. Menurut dia, TB MDR yang disebabkan kesalahan pasien. Karena tidak patuh berobat atau mangkir dari berobat.


Wednesday, 23 May 2018

Dalam upaya akselerasi penemuan kasus TBC, SSR TB-HIV ‘Aisyiyah Kota Bandar Lampung mengadakan kegiatan “ Cadre coordination with DHO for contact investigation data collection and survey”. Koordinasi ini melibatkan Tim SR, SSR, Dinas Kesehatan Kota Bandar Lampung, Perwakilan Puskesmas, dan kader, kegiatan dilaksanakan pada hari senin, 21 Mei 2018 di Aula Lantai III Gedung Dakwah Muhammadiyah Provinsi Lampung, Jl.P.Tendean No:7.Palapa. Bandar Lampung. 


Percepatan penemuan kasus akan ditempuh melalui investigasi kontak berdasarkan data dari TB 03 milik Dinas Kesehatan dengan cara menginvestigasi (Screening) disekitaran pasien indek dengan pola 1 30 5 1. Artinya setiap satu pasien indek akan diinvestigasi 30 orang disekitarnya, dengan harapan akan ditemukan 5 terduga TBC dan 1 pasien TBC. Baik Dinas Kesehatan,(Kasi P2PL Bapak Medi Kurniawan) maupun Kader menyambut antusias program ini, bahkan Dinas Kesehatan akan menginstruksikan semua puskesmas yang ada diwilayah Bandar Lampung untuk siaga dan tidak akan melakukan penolakan berapapun pot sputum yang diantar kader. SSR Bandar Lampung akan menerjunkan seluruh kader yang sudah terlatih (72 Kader), bahkan jika diperlukan akan diterjunkan pula kaderkader puskesmas diluar wilayah kerja. Untuk bulan Juni 2018 SSR Bandar Lampung mentargetkan 354 pasien Indek dan 1770 Terduga TBC.


Thursday, 10 May 2018

Nama         : Hayanah
Tempat/ Tanggal Lahir : 12 Maret 1974
Alamat         : Jl. Tunas Palapa 2 Kp. Cidadap RT. 04 LK.2 Kelurahan Campang Jaya 
                  Kecamatan Sukabumi Bandar Lampung



Kelurahan Campang Raya merupakan bagian dari Kecamatan Sukabumi Kota Bandar Lampung. Secara Geografis wilayah ini berbentuk perbukitan yang sebagian besar menjadi wilayah Industri. Kebanyakan penduduknya adalah buruh pabrik dan sebagian kecil petani, yang secara ekonomis
berada di bawah rata-rata. Dari aspek kesehatan, jarak tempuh ke Puskesmas terdekat cukup jauh, dengan jarak terdekat tidak kurang dari 7 Km.

Kondisi inilah yang di hadapi oleh Hayanah, salah satu Kader TB ‘Aisyiyah Kota Bandar Lampung. Perempuan kelahiran Campang Raya 12 Maret 1974 itu bergabung dengan komunitas TB ‘Aisyiyah sejak September Tahun 2014. Aktifitas social kemasarakatan yang tinggi di kelurahan menjadi dasar direkomendasi dari Pengelola TB Puskesmas Campang Raya untuk ikut andil dalam penanggulangan  Penyakit TB di Wilayah tersebut.

Meski banyak tantangan yang harus di hadapi, menurutnya menjadi kader TB adalah kegiatan yang mulia, karena akan dapat membantu orang banyak. Terlebih di daerah Kelurahan Campang Raya yang rata-rata penduduknya miskin atau sedikit diatas garis kemiskinan, ditambah dengan rendahnya kesadaran masyarakat akan kesehatan semakin memperbesar tantangan bagi kader TB. 

Selain itu, keikut sertaannya dalam kegiatan pemberantasan Tuberculosis juga mendapat tantangan dari keluarganya sendiri. Kekhawatiran akan tertular penyakit TB sering diutarakan oleh keluarganya. Namun istri dari Lesmono (50) tersebut selalu dapat meyakinkan keluarganya bahwa dirinya telah dibekali dengan pengetahuan tentang Tuberculosis, sehingga memahami cara menghindarinya. 

Meskipun demikian dirinya mengakui bahwa tidak mudah menyakinkan masyarakat (suspect TB) untuk memeriksakan dirinya. Sebagian menganggap remeh gejala-gejala yang terlihat, sebagian lagi takut karena persoalan biaya. “Memang bolak-balik ke puskesmasnya juga gratis?” jawaban masyakat saat dijelaskan bahwa berobat TB gratis. 

Persoalan lain timbul saat proses pengobatan. Meskipun belum terjadi, pengawasan terhadap pasien dalam mengkonsumsi obat, ternyata tidak dapat sepenuhnya diserahkan kepada Pengawas Minum Obat (PMO). “saya harus sering-sering mengingatkan pasien dan PMO agar pasien tidak terlambat minum obat”, kata ibu dua anak ini.

Hingga saat ini Hayanah telah berhasil menemukan 15 Suspect TB, dengan hasil pemeriksaan 5 BTA  Positif,  2 BTA-RO+. 

Terkait kelanjutan program, Ibu dari Lefria Damayanti (20th) dan M. Fauzul Akbar (9th), menyebutkan bahwa program TB seharusnyadilanjutkan hingga penyakit TB benar-benar telah habis, atau setidaknya telah banyak masyarakat yang menyadari dan memahami bagaimana dan apa itu penyakit TB. Meskipun demikian dirinya mengaku siap untuk terus membantu proses pemberantasan TB. 

Menyinggung tentang peran pemerintah, dirinya berharap pemerintah dapat lebih serius memperhatikan masalah ini, terlebih tentang pelayanan di Puskesmas. Yang dialaminya, pasien harus bersabar dalam menunggu hasil pemeriksaan di laboratorium. Persoalan ini menurutnya kontraproduktif dengan upaya pemberantasan Tuberculosis. 

Sebelum ada nya kader TB ‘Aisyiyah di Kelurahan Campang Raya dan Campang Jaya capaian di Puskesmas Campang Raya sangat rendah sekali dan tidak ditemukan kasus Pasien TB dengan BTA +, Alhamdulillah dengan adanya kader sekarang ini sudah capaian Puskesmas Campang Raya ada 11 pasien dengan BTA +. Suatu keberhasilan bagi Hayanah walau  Geografis yang sangat jauh dari Puskesmas membuat warga malas dan enggan sekali berobat, beliau menjemput antar pasien ke Puskesmas dengan bermodal membawa pot dahaq di bagasi motor.


Biodata

Nama : Nur sa’adah
Tempat/ tanggal lahir : Jawa Tengah/ 8 Agustus 1957
Alamat : Jl. ZA. Pagaralam Rajabasa Bandar Lampung


Single Parent, dengan dua orang anak yang masih banyak membutuhkan biaya untuk sekolah, bukanlah halangan bagi Nursa’adah, wanita kelahiran Kebumen Jawa Tengah 58 tahun yang lalu, untuk berbuat sesuatu yang bermanfaat bagi lingkungannya. Dua belas tahun yang lalu, saat anak keduanya duduk di kelas tiga Sekolah Dasar, Fahrul Rozi, suaminya, pergi merantau dan tidak pernah memberi khabar hingga kini. Sejak itu dia harus berjuang sorang diri menghidupi Qori Nasrul Ulum (29) dan Fatimahtu Zahro (21).

Berbekal kempuan menjahit dan warung kecil-kecilan, wanita murah senyum itu menjalani hidupnya di rumah sederhana di Jalan ZA Pagar Alam Kelurahan Rajabasa Bandar Lampung, bersama kedua anaknya. Ditengah kesibukannya mengais rezeki, Nursa’adah masih menyempatkan diri di pagi hari mengajar Paud dan sorenya mengajar ngaji anak-anak disekitar rumahnya. Ramainya anak-anak yang mengaji di rumahnya telah mampu menghalau kesedihan hatinya.
Berpedoman pada sebuah Hadits, (sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi lingkungannya/orang lain), Wanita yang akrab di pangging Ibu Nur, tidak berhenti mengikuti kegiatan-kegiatan sosial di lingkungannya. Menjadi kader PKK kelurahan, Posyandu Lansia dan mengajar PAUD dilakoninya dengan penuh keikhlasan. 

Kemurahan hatinya telah menghantarkan kemudahan bagi dirinya, selalu ada pertolongan Allah untuk setiap masalah yang dihadapinya. Kini dia patut berbangga telah mampu menghantarkan Putranya menjadi salah satu auditor di Bea Cukai di Jakarta, dan putrinya menjadi seorang asisten apoteker di salah satu Rumah Sakit Tertua di Bandar Lampung.

Dedikasinya yang tinggi terhadap masalah-masalah social telah menarik perhatian Sri Widarti, pengelola Tuberculosis (TB) Puskesmas Rajabasa Indah untuk merekomendasikannya menjadi Kader TB Komunitas yang dikelola oleh SSR TB ‘Aisyiyah Kota Bandar Lampung, dan sejak Maret 2014 Nursa’adah resmi tercatat sebagai salah satu Kader TB ‘Aisyiyah Bandar Lampung.

Menjadi seorang Kader TB baginya adalah tantangan tersendiri, karena yang akan dihadapinya kelompok masyakat yang secara sosio ekonomis berada di bawah rata-rata. Meski TB bukanlah penyakit yang mengenal kasta, tetapi kebanyakan penderitanya adalah kelopok masyarakat kurang mampu. Hal inilah yang menjadi penyemangat baginya untuk dapat membantu orang lain.

Hari-harinya selalu diisi dengan sosialisasi. Brosur dan Pot Dahak tak pernah tinggal, selalu ada dalam tas tuanya. Tidak ada kesempatan yang disia-siakannya untuk memberikan penjelasan tentang penyakit TB. Berkat kegigihannyanya, kini masyarakat mulai terbuka dan menyadari bahwa TB bukanlah penyakit yang terkait dengan masalah social (memalukan) sehingga mereka tidak lagi enggan untuk memeriksakan diri.

Perjuangan yang dilakukannya bukan tanpa masalah, kondisi sosiokultural masyarakat Kelurahan Rajabasa, yang banyak penduduk suku asli, yang terkenal dengan ‘piil’nya, rentan dengan masalah harga diri, mengharuskan proses penanganan pasien TB dilakukan dengan extra hati-hati. 
Karenanya, didatangi dan dimarahi keluarga pasien karena dianggap telah membuka aib keluarga, hal yang biasa dialaminya. Rendahnya kemampuan ekonomis masyarakat penderita TB juga menjadi masalah tersendiri,mengeluarkan dana pribadi untuk ‘mengongkosi’ paisen berobat juga hal yang biasa dilakukannya. “Itulah perjuangan, rezeki Allah yang atur”, kata Bu Nur seraya tersenyum. Baginya yang terpenting adalah suspect TB dapat diperiksa dan di obati.


SSR TB ‘Aisiyah Kota Bandar Lampung memulai program kerjanya pada bulan Januari Tahun 2014, diawali dengan Rakor dengan Dinas Kesehatan untuk pemetaan wilayah kerja. Disepakati pada awal program di Kecamatan Rajabasa dengan Puskesmas Rajabasa Indah, Kecamatan Tanjung Karang Pusat dengan Puskesmas Simpur, Tanjung Senang dengan Puskesmas Way Kandis, dan Kedamaian dengan Puskesmas Satelit.  Pada Maret Tahun 2014 bekerjasama dengan Dinas Kesehatan SSR TB ‘Aisyiyah Kota Bandar Lampung melatih 24 Kader.


September Tahun 2014 SSR TB ‘Aisyiyah Kota Bandar Lampung mengembangkan wilayah kerjanya di 4 Kecamatan, yaitu Way Halim dengan Puskesmas Way Halim, Tanjung Karang Timur dengan Puskesmas Kampung Sawah, Enggal dengan Puskesmas Kebun Jahe, dan Kecamatan Sukabumi dengan Puskesmas Campang Raya dan melatih 24 Kader,  pada bulan yang sama SSR TB ‘Aisyiyah Kota Bandar Lampung juga melatih Tokoh Agama sebanyak 20 orang.

Untuk memberikan pemahaman kepada masyarakat tentang bahayanya Tuberkulosis, pencegahan  dan pengobatannya, kader-kader TB ‘Aisyiyah aktif melakukan penyuluhan di masyarakat, dan pendampingan pengobatan Pasien hingga sembuh.  SSR TB ‘Aisyiyah juga melatih Pengawas Menelan Obat (PMO) bagi keluarga pasien, mengingat lamanya pengobatan TB dan memerlukan disiplin yang tinggi agar tidak resisten terhapap obat TB. 
PENAMBAHAN WILAYAH KERJA.

SSR TB-HIV ‘Aisyiyah Kota Bandar Lampung melakukan Re-Trainning untuk mengantikan kader-kader yang tidak aktif. Dan Di bulan November tahun 2016 melakukan Penambahan area kerja baru, dengan mengarah pada area pesisir Kota Bandar Lampung yaitu : Kecamatan Teluk  Betung Selatan, Teluk Betung Barat, Teluk Betung Timur dan Panjang dan Teluk Betung Utara, dengan  6 Puskemas. 

WILAYAH  KERJA SSR TB-HIV 'AISYIYAH KOTA BANDAR TAHUN 2016


N0
KECAMATAN
NAMA PKM
JUMLAH
KADER
KETERANGAN
1
RAJABASA
PUSKESMAS RAJABASA INDAH (RBI)
6

2
KEDATON
PUSKESMAS KEDATON
5
Wilayah Baru
3
WAY HALIM
PUSKESMAS WAY HALIM
6

4
SUKARAME
PUSKESMAS SUKARAME
5

PUSKESMAS KORPRI


5
TANJUNG SENANG
PUSKESMAS WAY KANDIS
5

6
TANJUNG KARANG PUSAT
PUSKESMAS SIMPUR
7

7
TANJUNG KARANG TIMUR
PUSKESMAS KAMPUNG SAWAH
5

8
TELUK BETUNG UTARA
PUSKESMAS SUMUR BATU
6

PUSKESMAS KUPANG KOTA

PUSKESMAS SATELIT

9
TELUK BETUNG SELATAN
PUSKESMAS PASAR AMBON
5
Wilayah Baru
10
PANJANG
PUSKESMAS PANJANG
5
Wilayah Baru
11
TELUK BETUNG BARAT
PUSKESMAS BAKUNG
5
Wilayah Baru
12
TELUK BETUNG TIMUR
PUSKESMAS KOTAKARANG
6
Wilayah Baru
PUSKESMAS SUKAMAJU
Wilayah Baru
13
BUMIWARAS
PUSKESMAS SUKARAJA
5
Wilayah Baru
JUMLAH
13
18
72


Tahun 2016 SSR TB ‘Aisyiyah berubah nama menjadi SSR TB-HIV ‘Aisyiyah dengan program Kolaborasi TB-HIV.


Berawal dari penyuluhan yang dilakukan kader, terjaring salah satu suspek. Meskipun pada awalnya sangat susah untuk dibawa ke Puskesmas. Berulangkali kader (Ibu Kamisah) mendatangi rumah pak Karsim untuk diajak ke Puskesmas, namun tetap tidak mau. Hingga pada Tanggal 7 Mei 2015 malam hari  pak Karsim menyerah, keesokan harinya ketika dahaknya diperiksa ternyata positif, dan Pak Karsim juga mempunyai penyakit Diabetes.


Pak Karsim berusia 76 Tahun dengan 11 anak dan 20 orang cucu, tinggal di Jalan. Arief Rahman Hakim Gg Jaya. Way Halim. Bandar Lampung, beliau tinggal bersama anaknya, salah satu menantu dan cucunya juga pernah terkena TB. 

Dua bulan menjalani pengobatan, pak karsim mulai merasakan efek samping obat yang luar biasa, dan kemudian diopname selama satu minggu, dari tgl 1 sampai 7 Juli 2015.  Selama opname oleh dokter obat paket diganti, dan sampai tgl 14 Juli pak Karsim tidak minum obat paket.  Pada Tgl 14 Juli Petugas Puskesmas bersama kader (Ibu Kamisah) melakukan kunjungan ke rumah pak karsim dan membujuk untuk meneruskan pengobatan.

Semangatnya yang tinggi untuk sembuh membuat pak Karsim tetap patuh minum obat, hingga pada Tanggal 22 Oktober, setiap kali sehabis minum obat Pak Karsim selalu menggigil, gatal2, kulitnya jadi gosong, dan akhirnya rontok berserakan, dan terkadang ketakutan.

Melihat keadaan seperti ini, kader melapor ke Puskesmas. Oleh puskesmas akan dirujuk ke rumah sakit, tetapi keluarga tidak membolehkan.


Kini diusia senjanya, pak karsim hanya sanggup berbaring, tetapi dengan semangat untuk sembuh pak karsim tetap melanjutkan pengobatan, meskipun dengan menahan sakit yang luar biasa.

Bu Kamisah dengan setia setiap minggu mengambilkan obat ke puskesmas dan memantau pengobatan pasien.


Pak Karsim bersama istri dan Ibu Kamisah( Kader TB ‘Aisyiyah)


SSR TB-HIV ‘Aisyiyah Kota Bandar Lampung dalam kurun waktu Tahun 2014-2015 telah beberapa kali melakukan kegiatan Advokasi. Dari kegiatan tersebut ada yang berhasil yang dibuktikan dengan dokumen pendukung, ada yang berhasil tetapi belum sempat dibuktikan dengan dokumen pendukung (MoU), dan ada juga yang masih dalam proses untuk berhasil.
I. Tahun 2014.
SSR TB ‘Aisyiyah melaksanakan Advokasi ke tiga Lembaga, yaitu Universitas Muhammadiyah Lampung, Twin Tulipe Ware, dan LPM, yang penandatangannannya dilaksanakan ketika perhelatan TB Day Tanggal 24 Mei 2014 di Gedung Dakwah Muhammadiyah Lampung. Dari ketiga Lembaga tersebut 2 berjalan, yaitu UML dan Twin Tulipe Ware, dan satu masih terus berproses.

II. Tahun 2015.
A. Advokasi yang berhasil dilaksanakan dan didukung oleh bukti dokumen:

1. Forum Tuberkulosis Kota Bandar Lampung.
Diawali dari kegiatan Pra Loby dan Loby Eksekutif, memunculkan rasa empati dari Bapak Walikota ketika mengetahui data yang ditampilkan oleh SSR TB ‘Aisyiyah tentang kondisi TB di Kota Bandar Lampung.  Kolaborasi antara SSR TB ‘Aisyiyah, Tim Ansit Universitas Muhammadiyah Lampung, dan KMP Dayamas  Siger dan diinisiasi oleh Bapak Walikota terbentuklah Forum yang oleh Bapak Walikota diberi nama “Forum Tuberkulosis Kota Bandar Lampung” pada Tanggal 10 Maret 2015.

Perjalanan panjang  dilalui Forum TB Kota Bandar Lampung (FTB) ketika Pemda akan memberikan Hibah, dan terkendala oleh Permendagri No: 32 Tahun 2011 Pasal 7 Ayat (2b) yang berbunyi “Hibah kepada organisasi kemasyarakatan diberikan dengan persyaratan telah terdaftar pada Pemerintah Daerah sekurang-kurangnya 3 Tahun”.  Melalui berbagai proses akhirnya FTB bekerjasama dengan IDEAS (Institute for Democracy Studies) dalam pencairan dana hibah yang diberikan oleh Pemerintah Daerah sebesar Rp. 150.000.000,-. Dana tersebut digunakan antara lain untuk pemberian extra fooding kepada 300 pasien selama 4 bulan, dan penghargaan kepada kader dan stakeholde (video Terlampir).

2. Draf Raperda TB-HIV Kota Bandar Lampung.
Diawali dengan pertemuan Legislative pada Tanggal 24 Februari 2015 tertuang dalam pernyataan sikap komisi IV DPRD Kota Bandar Lampung terkait Regulasi dan Anggaran (Pernyataan Sikap Terlampir), komunikasi dan koordinasi antara SSR Balam dan Komisi IV DPRD terus dibangun, dan pada Tanggal 4 September 2015 SSR Bandar Lampung menyerahkan Draf Raperda Penanggulangan Penyakit TB-HIV yang diajukan oleh SSR TB ‘Aisyiyah Kota Bandar Lampung (Bukti Penyerahan  dan foto Terlampir).  SSR Balam berharap ada Perda Khusus tentang Penanggulangan Penyakit TB-HIV,   Raperda tersebut saat ini masuk pada tahap Prolegda.

3. Parkir RSU Dr. H. Abdul Moeloek.
Pasien Suporter yang setiap hari mendampingi pengobatan pasien TB-MDR  tentunya akan sangat terasa berat apabila setiap hari harus membayar parkir. SSR Bandar Lampung  melakukan Advokasi dengan kepala parkir untuk dapat membebaskan biaya parkir bagi Pasien Suporter selama 2 tahun pendampingan.

III. Tahun 2016
Advokasi tahun 2016  lebih difokuskan pada penerbitan Perda tentang Penanggulanan Penyakit Menular. SSR Bandar Lampung  diberikan kesempatan untuk mengajukan usulan tambahan yang dituangkan dalam Persandingan Raperda, dan sudah diserahkan ke Pemerintah Kota Bandar Lampung.

IV. Tahun  2017
Advokasi Tahun 2017 hampir sama dengan  Tahun 2016,namun pertemuan-pertemuan dengan DPRD danCSO lebih ditingkatkanbaik yang bersifat formalmaupun informal.  Pada bulan oktober sampai dengan pertengahan Desember secara intensif  tim advokasi SSR Bandar Lampung dilibatkan dalam pembahasan pasal per pasal bersama dengan DPRD, Dinas Kesehatan, Pemkot Bandar Lampung,  Berkat pertolongan dari Allah SWTsetelah melalui perjuangan penjang selama 2 Tahun akhirnya Perda Pencegahan dan Penanggulangan Penyakit Menular disyahkan dalam sidang paripurna pada Tanggal 28 Desember 2017.


B. Advokasi yang berhasil dilaksanakan namun belum didukung Bukti.

Salah satu peserta dari kegiatan Pertemuan Perencanaan Rencana Aksi Daerah dan Road Map yang dilaksanakan pada tanggal 25-26 November 2014 di Hotel Arinas Bandar Lampung  adalah Sekretaris Pokdar Polresta Bandar Lampung (Bapak  Jan Jan Suja).  Setelah acara usai kami menghadap bapak Kasat Bimas Polresta Bandar Lampung (Bapak Kompol Feriwanto, SH, MH) untuk ikut dalam kegiatan rutin beliau yang audiennya berganti-ganti, antara lain komunitas pemilik kos, komunitas tukang ojek, dll yang dilaksanakan rutin tiap bulan di polsek-polsek wilayah kerja Polresta Bandar Lampung dan akhirnya permintaan kami dikabulkan.

Ada 3 Narasumber disetiap kali pertemuan, yaitu Bapak Kasat  Bimas (Bapak Feriwanto), Ketua BNK Kota Bandar Lampung (Bapak  Sulaiman Bardan), dan Kordinator Pelaksana SSR TB ‘Aisyiyah (Pristi W) (Salah satu Foto Terlampir).   Kegiatan ini berlangsung sekitar 6 bulan dan lebih sering dilaksanakan malam hari, namun Advokasi ini belum didukung bukti tertulis.

catatan dan rekomendasi

1. Advokasi membutuhkan ketekunan dan kerjasama dari berbagai pihak.
2. Penguatan jejaring
3. Sekecil apapun Advokasi yang berhasil dilaksanakan, dibuatkan bukti tertulis (Surat Pernyataan, Berita Acara, MoU)
4. Jangan Pernah lelah melakukan Advokasi.

FOTO-FOTO ADVOKASI

1. Bersama Rektor  Universitas Muhammadiyah Lampung


2. Penyerahan draf Raperda Penanggulangan TB, HIV, dan AIDS
kepada Bapak Walikota Bapak Drs. Herman HN, MM



3. Penyerahan Draf Raperda Penanggulangan Penyakit TB, HIV dan AIDS kepada Ketua Komisi  IV DPRD Kota Bandar Lampung Bapak Ir. Syarif Hidayat


4. Penyerahan  Usulan Tambahan Raperda Penanggulanan Penyakit Menular kepada
Pemkot Bandar Lampung didampingi Bapak Dr. Wirman, Ketua Majelis Kesehatan PWM
Lampung yang juga Sekretaris KPA Kota Bandar Lampung




Monday, 29 January 2018

Hasil rakornas TB Care 'Aisyiyah di hotel Novotel 18-22 Desember 2017 lalu menghasilkan beberapa keputusan. Beberapa hal yang dihasilkan diantaranya adalah pembentukan dan penutupan SSR (Sub-sub Recipient) dibeberapa Propinsi. SR Lampung sendiri mengalami dua hal tersebut. 


"Terlepas dari hasil keputusan rakornas yang harus laksanakan dengan amanah, sejatinya kerjasama antara KMP Sidobinangun dengan 'Aisyiyah sangat baik. Keputusan ini bukan karena kinerja yang kurang baik. Namun lebih kepada ketetapan program yang harus kita taati bersama." Tutur Sudiyanto,S.Sos selaku koordinator SR Lampung.

Kinerja baik KMP Sidobinangun dalam kerjasa penanggulangan TB ditandai dengan hasil penemuan pasien positif TB sebanyak 141 sepanjang tahun 2017.

Berakhirnya program ini di KMP Sidobinangun tidak menyudahi program 'Aisyiyah dalam penanggulangan TB di Lampung Tengah mengingat masih ada SSR TB Care 'Aisyiyah Lampung Tengah.