Thursday, 10 May 2018

Biodata

Nama : Nur sa’adah
Tempat/ tanggal lahir : Jawa Tengah/ 8 Agustus 1957
Alamat : Jl. ZA. Pagaralam Rajabasa Bandar Lampung


Single Parent, dengan dua orang anak yang masih banyak membutuhkan biaya untuk sekolah, bukanlah halangan bagi Nursa’adah, wanita kelahiran Kebumen Jawa Tengah 58 tahun yang lalu, untuk berbuat sesuatu yang bermanfaat bagi lingkungannya. Dua belas tahun yang lalu, saat anak keduanya duduk di kelas tiga Sekolah Dasar, Fahrul Rozi, suaminya, pergi merantau dan tidak pernah memberi khabar hingga kini. Sejak itu dia harus berjuang sorang diri menghidupi Qori Nasrul Ulum (29) dan Fatimahtu Zahro (21).

Berbekal kempuan menjahit dan warung kecil-kecilan, wanita murah senyum itu menjalani hidupnya di rumah sederhana di Jalan ZA Pagar Alam Kelurahan Rajabasa Bandar Lampung, bersama kedua anaknya. Ditengah kesibukannya mengais rezeki, Nursa’adah masih menyempatkan diri di pagi hari mengajar Paud dan sorenya mengajar ngaji anak-anak disekitar rumahnya. Ramainya anak-anak yang mengaji di rumahnya telah mampu menghalau kesedihan hatinya.
Berpedoman pada sebuah Hadits, (sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi lingkungannya/orang lain), Wanita yang akrab di pangging Ibu Nur, tidak berhenti mengikuti kegiatan-kegiatan sosial di lingkungannya. Menjadi kader PKK kelurahan, Posyandu Lansia dan mengajar PAUD dilakoninya dengan penuh keikhlasan. 

Kemurahan hatinya telah menghantarkan kemudahan bagi dirinya, selalu ada pertolongan Allah untuk setiap masalah yang dihadapinya. Kini dia patut berbangga telah mampu menghantarkan Putranya menjadi salah satu auditor di Bea Cukai di Jakarta, dan putrinya menjadi seorang asisten apoteker di salah satu Rumah Sakit Tertua di Bandar Lampung.

Dedikasinya yang tinggi terhadap masalah-masalah social telah menarik perhatian Sri Widarti, pengelola Tuberculosis (TB) Puskesmas Rajabasa Indah untuk merekomendasikannya menjadi Kader TB Komunitas yang dikelola oleh SSR TB ‘Aisyiyah Kota Bandar Lampung, dan sejak Maret 2014 Nursa’adah resmi tercatat sebagai salah satu Kader TB ‘Aisyiyah Bandar Lampung.

Menjadi seorang Kader TB baginya adalah tantangan tersendiri, karena yang akan dihadapinya kelompok masyakat yang secara sosio ekonomis berada di bawah rata-rata. Meski TB bukanlah penyakit yang mengenal kasta, tetapi kebanyakan penderitanya adalah kelopok masyarakat kurang mampu. Hal inilah yang menjadi penyemangat baginya untuk dapat membantu orang lain.

Hari-harinya selalu diisi dengan sosialisasi. Brosur dan Pot Dahak tak pernah tinggal, selalu ada dalam tas tuanya. Tidak ada kesempatan yang disia-siakannya untuk memberikan penjelasan tentang penyakit TB. Berkat kegigihannyanya, kini masyarakat mulai terbuka dan menyadari bahwa TB bukanlah penyakit yang terkait dengan masalah social (memalukan) sehingga mereka tidak lagi enggan untuk memeriksakan diri.

Perjuangan yang dilakukannya bukan tanpa masalah, kondisi sosiokultural masyarakat Kelurahan Rajabasa, yang banyak penduduk suku asli, yang terkenal dengan ‘piil’nya, rentan dengan masalah harga diri, mengharuskan proses penanganan pasien TB dilakukan dengan extra hati-hati. 
Karenanya, didatangi dan dimarahi keluarga pasien karena dianggap telah membuka aib keluarga, hal yang biasa dialaminya. Rendahnya kemampuan ekonomis masyarakat penderita TB juga menjadi masalah tersendiri,mengeluarkan dana pribadi untuk ‘mengongkosi’ paisen berobat juga hal yang biasa dilakukannya. “Itulah perjuangan, rezeki Allah yang atur”, kata Bu Nur seraya tersenyum. Baginya yang terpenting adalah suspect TB dapat diperiksa dan di obati.


0 comments:

Post a Comment