Nama : Hayanah
Tempat/ Tanggal Lahir : 12 Maret 1974
Alamat : Jl. Tunas Palapa 2 Kp. Cidadap RT. 04 LK.2 Kelurahan Campang Jaya
Kecamatan Sukabumi Bandar Lampung
Kelurahan Campang Raya merupakan bagian dari Kecamatan Sukabumi Kota Bandar Lampung. Secara Geografis wilayah ini berbentuk perbukitan yang sebagian besar menjadi wilayah Industri. Kebanyakan penduduknya adalah buruh pabrik dan sebagian kecil petani, yang secara ekonomis
berada di bawah rata-rata. Dari aspek kesehatan, jarak tempuh ke Puskesmas terdekat cukup jauh, dengan jarak terdekat tidak kurang dari 7 Km.
Kondisi inilah yang di hadapi oleh Hayanah, salah satu Kader TB ‘Aisyiyah Kota Bandar Lampung. Perempuan kelahiran Campang Raya 12 Maret 1974 itu bergabung dengan komunitas TB ‘Aisyiyah sejak September Tahun 2014. Aktifitas social kemasarakatan yang tinggi di kelurahan menjadi dasar direkomendasi dari Pengelola TB Puskesmas Campang Raya untuk ikut andil dalam penanggulangan Penyakit TB di Wilayah tersebut.
Meski banyak tantangan yang harus di hadapi, menurutnya menjadi kader TB adalah kegiatan yang mulia, karena akan dapat membantu orang banyak. Terlebih di daerah Kelurahan Campang Raya yang rata-rata penduduknya miskin atau sedikit diatas garis kemiskinan, ditambah dengan rendahnya kesadaran masyarakat akan kesehatan semakin memperbesar tantangan bagi kader TB.
Selain itu, keikut sertaannya dalam kegiatan pemberantasan Tuberculosis juga mendapat tantangan dari keluarganya sendiri. Kekhawatiran akan tertular penyakit TB sering diutarakan oleh keluarganya. Namun istri dari Lesmono (50) tersebut selalu dapat meyakinkan keluarganya bahwa dirinya telah dibekali dengan pengetahuan tentang Tuberculosis, sehingga memahami cara menghindarinya.
Meskipun demikian dirinya mengakui bahwa tidak mudah menyakinkan masyarakat (suspect TB) untuk memeriksakan dirinya. Sebagian menganggap remeh gejala-gejala yang terlihat, sebagian lagi takut karena persoalan biaya. “Memang bolak-balik ke puskesmasnya juga gratis?” jawaban masyakat saat dijelaskan bahwa berobat TB gratis.
Persoalan lain timbul saat proses pengobatan. Meskipun belum terjadi, pengawasan terhadap pasien dalam mengkonsumsi obat, ternyata tidak dapat sepenuhnya diserahkan kepada Pengawas Minum Obat (PMO). “saya harus sering-sering mengingatkan pasien dan PMO agar pasien tidak terlambat minum obat”, kata ibu dua anak ini.
Hingga saat ini Hayanah telah berhasil menemukan 15 Suspect TB, dengan hasil pemeriksaan 5 BTA Positif, 2 BTA-RO+.
Terkait kelanjutan program, Ibu dari Lefria Damayanti (20th) dan M. Fauzul Akbar (9th), menyebutkan bahwa program TB seharusnyadilanjutkan hingga penyakit TB benar-benar telah habis, atau setidaknya telah banyak masyarakat yang menyadari dan memahami bagaimana dan apa itu penyakit TB. Meskipun demikian dirinya mengaku siap untuk terus membantu proses pemberantasan TB.
Menyinggung tentang peran pemerintah, dirinya berharap pemerintah dapat lebih serius memperhatikan masalah ini, terlebih tentang pelayanan di Puskesmas. Yang dialaminya, pasien harus bersabar dalam menunggu hasil pemeriksaan di laboratorium. Persoalan ini menurutnya kontraproduktif dengan upaya pemberantasan Tuberculosis.
Sebelum ada nya kader TB ‘Aisyiyah di Kelurahan Campang Raya dan Campang Jaya capaian di Puskesmas Campang Raya sangat rendah sekali dan tidak ditemukan kasus Pasien TB dengan BTA +, Alhamdulillah dengan adanya kader sekarang ini sudah capaian Puskesmas Campang Raya ada 11 pasien dengan BTA +. Suatu keberhasilan bagi Hayanah walau Geografis yang sangat jauh dari Puskesmas membuat warga malas dan enggan sekali berobat, beliau menjemput antar pasien ke Puskesmas dengan bermodal membawa pot dahaq di bagasi motor.



0 comments:
Post a Comment